mungkin rizqi anda :

Selamat Datang ! Selamat Membaca ! jumlah pengunjung dari negara: ...

free counters

Kamis, 16 Desember 2010

MENGENAL KABUPATEN BREBES



Sejarah Kabupaten Brebes





Letak Geografis
1. Kabupaten Brebes terletak di bagian Utara Barat dari Provinsi Jawa Tengah, dan terletak diantara :
- Bujur Timur : 108 derajat 41'37,7" – 109 derajat 11'28,92"
- Lintang Selatan : 6 derajat 44'56'5" – 7 derajat 20'51,48
Dengan batas-batas sebagai berikut :


- Sebelah Utara : Laut Jawa
- Sebelah Timur : Kabupaten dan Kota Tegal
- Sebelah Selatan : Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap
- Sebelah Barat : Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon
2. Ketinggian dari permukaan laut kurang lebih 3 meter ( Ibu kota Kab. Brebes )
3. Jarak Terjauh :
- Utara s/d Selatan : 58 km
- Barat s/d Timur : 50 km
4. Luas Daerah Kabupaten Brebes 116.117 ha yang terdiri sebagai berikut :
A. Lahan sawah : 66,476 ha

- Berpengairan Teknis : 29,234 ha
- Berpengairan Setengah Teknis : 11.356 ha
- Berpengairan Sederhana : 10.489 ha
- Tadah Hujan : 15.397 ha
B. Lahan Pertanian Bukan sawah : 44,643 ha
C. Hutan Negara : 48,574 ha
D. Perkebunan Negara / swasta : 1,279 ha
E. Lainnya ( Jalan, Kuburan ) : 5,243 ha

SEJARAH DAN KEBUDAYAAN

1. Asal Mula Nama Brebes
Menurut luas wilayah, Brebes merupakan kabupaten terbesar nomor tiga setelah kabupaten Wonogiri dan Cilacap di Jawa Tengah atau seluas 1.657,73 km²,
Dalam riwayat perkembangannya semenjak dahulu kala merupakan daerah yang mempunyai banyak air dan sering tergenang air, sedang bentuk masyarakatnya ramah tamah dan berpandangan kedepan kea rah kemajuan jaman.
Dari sumber yang dapat diketemukan, pada tahun 1640 / 1641, nama Brebes itu sudah mulai tercantum di dalam penulisan / laporan / daftar harian yang dibuat oleh VOC.

Ada beberapa pendapat mengenai asal muasal nama Brebes, yaitu :
a. Yang pertama mencoba menghubungkannya dengan keadaan alamiah daerah Brebes
yang pada awal mulanya konon mempunyai banyak air dan sering tergenang air,
bahkan ada kemungkinan masih berupa rawa-rawa. Mengingat banyak air yang
merembes,
Munculah kemudian nama Brebes, yang selanjutnya mengalami perubahan menjadi
Brebes.
b. Pendapat kedua mencoba mengkaitkan dengan masuknya agama Islam pada awal
mulanya ke Brebes, yang sekalipun dihalang-halangi namun ternyata masih juga
merembes, yang selanjutnya berubah menjadi Brebes.
c. Pendapat yang ketiga mencoba menerangkan asal muasal nama Brebes dari kata-kata
"bara" dan "basah".
"Bara" berarti hamparan tanah datar yang luas, sedang "basah" berarti banyak
mengandung air. Kedua-duanya cocok dengan keadaan daerah Brebes, yang kecuali
merupakan air. Kedua-duanya cocok dengan keadaan daerah Brebes yang kacuali
merupakan dataran luas, juga mengandung banyak air, karena perkataan "BARA"
diucapkan "BERE", sedang "BASAH" diucapkan "BESAH", pada akhirnya lahirlah
perkataan "BERE BESAH", yang untuk mudahnya kemudian telah berubah menjadi
BREBES.
d. Pendapat keempat, mencoba mengkaitkan dengan nama sebuah gunung yang terletak
antara Bantarkawung – salem yang bernama "BARIBIS" dari gunung Baribis tersebut
mengalir sungai "Baribis" yang mengalir melalui dataran bagian utara bermuara di
laut Jawa dan setelah bergabung dengan aliran sungai-sungai yang lain merupakan
sungai besar dipantai utara Jawa. Sungai Baribis ini, pada jaman dulu dianggap
sebagai sungai yang bertuah dan konon sungai tersebut juga banyak buayanya.
Orang-orang pada saat itu banyak yang melarang anak cucunya untuk datang,
menyeberangi, mandi dan sebagainya disungai tersebut. Terlebih dalam saat berperang
orang tua selalu memberikan peringatan-peringatan yang melarang melangkahi
/menyeberangi sungai tersebut.
Untuk meyakinkan hal ini, maka terungkaplah sebuah legenda tentang perang Arya
Bangah dengan Ciyung Wanara. Akibat menyeberangi sungai Baribis tersebut, Arya
Bangah mengalami kekalahan.
Dari kepercayaan akan hal tersebut maka sungai Baribis itu dijadikan peringatan agar
jangan sampai pada saat berperang menyeberangi sungai tersebut.
Karena sungai Baribis menjadi larangan dari kaum tua, maka sungai Baribis dikenal
sebagai larangan, atau sungai pepali atau pemali, yang berarti larangan ata Pepalang.
Jadi dahulu menurut tutur beberapa orang tua di daerah Brebes selatan sungai Pemali
itu semula bernama sungai Baribis yang bermata air dari gunung Baribis.
Kemungkinan itu sebabnya, daerah ini disebut daerah Baribis, yaitu daerah aliran
sungai Baribis dan dari kata Baribis ini menjadi Brebes.

e. Pendapat kelima mencoba mengkaitkan bahasa Jawa dari perkataan Brebes atau
Mrebes berarti tansah metu banyune artinya selalu keluar airnya dan nama ini telah
lahir, mengingat pada awal mula sejarahnya, keadaan lahan di kawasan kota Brebes
sekarang ini memang selalu keluar airnya.
2. Sejarah Berdirinya Kabupaten Brebes
Setelah kita mendapatkan petunjuk bahwa Tumenggung Arya Suralaya adalah Bupati Brebes yang pertama , untuk menetapkan Hari Jadi Kabupaten Brebes tentunya kita masih harus mengetahui kapan Tumenggung Arya Suralaya ditetapkan / dilantik sebagai bupati itu.
Sejarah mencatat Tragedi gugurnya Adipati Arya Martalaya Bupati Tegal, terjadi di Jepara pada tanggal 17 Januari 1678 . pada keesokan harinya setelah tragedi tersebut, Sunan Amangkurat II menunjuk pengganti-pengganti para yang gugur untuk mengisi jabatan yang kosong yaitu jabatan Bupati Jepara, Pati , Tegal dan Brebes.
Khusus untuk jabatan Bupati Brebes ditunjuk Arya Suralaya. Jadi penunjukan ini terjadi pada tanggal 18 Januari 1678. Dengan demikian Titi mangsa pengangkatan Tumengung Arya Suralaya sebagai Bupati Brebes yang pertama pada tanggal 18 Januari 1678 sekligus menunjukkan Titi mangsa tegak berdirinya Wilayah Brebes sebagai daerah Kabupaten.
Maka selayaknyalah apabila tanggal tanggal 18 Januari 1678 itu diangkat dan ditetapkan menjadi HARI JADI Kabupaten Brebes, sedangkan saatnya jatuh hari Senin Kliwon, tahunnya sesuai tahun 1089 H atau tahun Saka 1600 atau tahun 1601 Jawa. Titi mangsa Hari Jadi Kabupaten Brebes seperti diuraikan di atas, kita angkat dalam untaian Candra sangkala : Nyawiji Ngluhurake Memanising Bopati
Dengan penjelasan :
Nyawiji bermakna : 1
Ngluhurake ( luhur ) bermakna : 0
Memanising ( rasa manis ) bermakna : 6
Bopati ( bupati ) bermakna : 1
Arti keseluruhan : menunjukan tahun Jawa 1601
Candra Sengkala di atas dapat sekaligus disesuaikan dengan angka tahun Masehi, dengan Surya Sengkala :
“ MANGESTHI WICARA EBAHING PRAJA “
Dengan penjelasan :
MANGESTHI ( menuju ) bermakna : 8
WICARA ( Ceritera, Riwayat ) bermakna : 7
EBAHING ( kegiatan ) bermakna : 6
PRAJA ( pemerintah/ Negara ) bermakna : 1
Arti keseluruhan : menunjukan tahun Masehi 1678

Wilayah Kabupaten Brebes pada waktu itu meliputi Brebes, Bentar dan Losari
Pada tahun 1823 – 1901 Brebes masuk karesidenan Tegal
Pada tahun 1901 – 1928 Brebes masuk karesidenan Pekalongan
Pada tahun 1928 – 1942 Brebes masuk karesidenan Tegal
Pada tahun 1942 sampai dengan sekarang Brebes masuk karesidenan Pekalongan

3.Gambar, Sesanti dan Makna Lambang

A. Makna Bentuk dan Motif Dalam Lambang

1.Daun Lambang Daerah yang berbentuk Dasar Segi Lima Melambangkan Dasar Falsafah Negara yaitu Pancasila, sedangkan warna biru menunjukkan adanya daerah Pantai dan Pegunungan. Puncak segi lima menunjukkan puncak gunung sedangkan lengkung-lengkungnya menunjukkan gelombang lautan
2. Makna dan motif-motif didalam lambang
a. Bintang Bintang bersudut lima berwarna kuning emas melambangkan bahwa masyarakat Brebes adalah makhluk yang berKetuhanan Yang Maha Esa.
b. Kapas dan Padi Melambangkan Sandang Pangan
c. Bentuk Bulat Telur serta Gambar Bawang Merah Melambangkan bahwa telur asin serta gambar bawang merah merupakan hasil spesifik daerah.
d. Lima Akar Melambangkan bahwa rakyat dan Pemerintah Daerah adalah Pelaksana Demokrasi Pancasila.
e. Perpaduan antara tujuh belas butir padi, delapan buah kapas empat puluh lima mata rantai Melambangkan titi mangsa proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945.
f. Perpaduan tiga umbi bawang merah dan lima akar yang berwarna hitam, puncak bawang yang merupakan nyala api yang tak kunjung padam berjumlah lima. Melambangkan kehidupan Demokrasi (Legistatif, eksekutif, Yudikatif) yang harus dilaksanakan secara dinamis dalam bentuk Demokrasi Pancasila.
g. Sebuah pita putih bergaris tepi hitam yang menyambungkan padi dan kapas ditengahnya bertuliskan: Mangesti Wicara Ebahing Praja dengan warna hitam yang menunjukkan bahwa rakyat Brebes bertekad untuk membangun daerahnya guna mewujudkan kesejahteraan bersama dalam rangka membangun bangsa dan Negara Kesatuan republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

B. Makna Warna

a. Putih berarti : Kejujuran/Kesucian
b. Kuning emas berarti : Kesatuan/Keagungan/Kemuliaan Kebijaksanaan
c. Merah berarti : Keberanian
d. Hijau berarti : Kemakmuran/Kerukunan
e. Hitam berarti : Keteguhan/Keabadian
f. Biru berarti : Kedamaian/Kesetiaan

C. Sesanti

Sesanti Daerah adalah Mangesti Wicara Ebahing Praja
1) Arti Sesanti Daerah kata demi kata adalah:
a. Mangesthi : Menuju, menginginkan, menghendaki, mengusahakan, mengutamakan,
bertekad.
b. Wicara : Bicara, cerita, riwayat, pembicaraan, rembug, musyawarah, mufakat,
kebulatan tekad.
c. Ebah (ing) : Gerak, kegiatan, bekerja membangun.
d. Praja : Pemerintahan, Negara, Kegiatan-kegiatan kenegaraaan.
(2) Arti keseluruhan sesanti daerah adalah bahwa rakyat bersama Pemerintah Daerah
Brebes bertekad (Mangesthi) untuk membangun daerahnya guna mewujudkan
kesejahteraan bersama dalam rangka membangun (ebahing) Negara (Praja) dan
Bangsa.
(3) Arti Surya sengkala Mangesthi Wicara Ebanhing Praja
- Mangesthi berwatak : 8
- Wicara berwatak : 7
- Ebah(ing) berwatak : 6
- Praja berwatak :1
Dengan demikian Mangesthi Wicara Ebahing Praja mengandung makna tahun matahari/ masehi : 1678, tahun ini adalah tahun berdirinya Pemerintah Brebes dengan titi mangsa 18 Januari 1678 yang ditandai dengan dilantiknya Bupati Brebes yang pertama yaitu : Raden Arya Suralaya.


4. Nama – nama Bupati yang Pernah Menjabat di Kab. Brebes

1. Tumenggung Arya Suralaya 1678 - 1683
2. Tumenggung Pusponegoro I 1683
3. Tumenggung Puspaningrat ( Pusponegoro II ) 1683 - 1809
4. Tumenggung Pusponegoro III
5. Kanjeng.Adipati.Ariya Singasari Panatayuda I ( Sura ) 1809 - 1836
6. Kanjeng.Adipati.Ariya Singasari Panatayuda II ( Karta ) 1836 - 1856
7. Kanjeng.Adipati.Ariya. Singasari Panatayuda III ( Sarya ) 1850 - 1876
8. Raden Tumenggung Cakra Atmaja 1876 - 1880
9. Raden Mas Adipati Ariya Cakranegara I 1880 - 1885
10. Raden Mas Tumenggung Sumitra 1885 - 1907
kemudian berganti nama : Raden Mas Adipati Ariya Cakranegara II
11. Raden Mas Martanam ( Sawergi III ) 1907 - 1920
12. Kanjeng Raden Tumengung Mas Ariya Purnama Hadiningrat 1920 - 1929
13. Raden Sajikun 1929 (hanya 8 bulan)
14. Raden Adipati Ariya Sutirta Pringga Haditirta 1931 - 1942
15. Raden Sunarya 1942 - 1945
16. Sarimin Reksadiharja 1945 - 1946
17. KH Syatori 1946 - 1947
18. Raden Awal 1947 - 1947
19. Agus Miftah 1947 - 1948
20. R. Sumarna 1948 - 1950
21. Mas Slamet 1950 - 1956
22. Raden Mardjaban 1956 - 1966
23. R.H. Sartono Gondosoewandito, SH 1967 - 1979
24. H. Syafrul Supardi (Kolonel) 1979 - 1989
25. H. Hardono (Kol CZI) 1989 - 1994
26. H. Syamsudin Sagiman 1994 - 1999
27. H.M. Moh. Tadjudin Nuraly 1999 - 2001
28. PLTH Drs Haji Tri Harjono 2001-2002
29. Indra Kusuma, S.SOS 2002 – s.d. Agustus 2010
30. Agung Widiyantoro sementara sebagai Pelaksana Tugas Bupati, sejak Agustus 2010

5. Kesenian dan Tempat Wisata

a. Macam dan Perkembangan Kesenian
Kesenian yang ada di Daerah Kabupaten Brebes dapat dikatakan secara keseluruhan adalah Kesenian Rakyat yang secara turun temuun/ dari nenek moyang dan bersifat kedaerahan.

Macam kesenian yang ada :
(1). Umbul , berkembang terutama di Daerah Randusanga Kecamatan Brebes
(2). Calung, berkembang di Daerah Malahayu Kecamatan Banjarharjo
(3). Marses, berkembang di Daerah Prapag Lor Kecamatan Losari
(4). Kuda Lumping, berkembang hamper di seluruh Kab. Brebes
(5). Burok, berkembang di Daerah Kecamatan Tanjung dan Losari
(6). Wayang Topeng, berkembang di Daerah Terlangu Kec. Brebes dan Desa
Siasem Kec. Wanasari
(7). Genjringan/Terbangan/Sintren dan Wayang Golek


b. Tempat – tempat Wisata
Tempat – tempat Wisata di Kabupaten Brebes adalah :
(1) Waduk Malahayu di Kecamatan Banjarharjo
(2) Waduk Penjalin di Kecamatan Paguyangan
(3) Telaga Ranjeng di Kecamatan Paguyangan
(4) Pemandian Air Panas di Desa Buaran Kecamatan Bantarkawung
(5) Pemandian Air Panas Tirta Husada di Desa Kedung Oleng Kecamatan Paguyangan
(6) Air Terjun Curug Putri di Desa Mandala di Kecamatan Sirampog
(7) Pantai Randusanga di Desa Randusanga Kecamatan Brebes
(8) Sembilan Gua, di Desa Karangbale Kecamatan Larangan
(9) Gua Terusan, di Gunung Kumbang Kecamatan Salem
(10) Candi Siliwangi, di Desa Wlahar Kecamatan Larangan
(11) Gua Lawa di Desa Songgom Kecamatan Jatibarang

baca selengkapnya ( klik ) di sini...

Sejarah Pembukuan Al-Qur'an


Sejarah Pembukuan Al-Qur'an dapat dibagi menjadi tiga periode :
1. Pembukuan Al-Qur’an pada Masa Nabi Muhammad SAW
2. Pembukuan Al-Qur'an pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq
3. Pembukuan Al-Qur'an pada masa Usman bin Affan

1. Pembukuan Al-Qur’an pada Masa Nabi Muhammad SAW
Pembukuan Al Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW masih dalam bentuk ...

Pengumpulan dalam arti penulisan Al-Qur’an yang pertama.
Nabi Muhammad SAW setelah menerima wahyu kemudian mengangkat para Sahabat-Sahabatnya sebagai penulis wahyu Al-Qur'an seperti : Ali bin Abi Tholib, Muawiyah, 'Ubai bin Ka'ab dan Zaid bin Tsabit.
Ketika Wahyu atau Ayat Al-Qur’an turun, Nabi Muhammad SAW kemudian memerintahkan Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, 'Ubai bin Ka'ab dan Zaid bin Tsabit.
menuliskannya dan menunjukkan tempat Ayat tersebut dalam Surat Al-Qur’an, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan di dalam hati. Para sahabat juga menuliskan Al-Qur'an yang telah turun di tempat lainnya seperti pada pelepah kurma , lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, dan lain-lain..
Zaid bin Tsabit, menjelaskan : "Kami menyusun Al-Qur'an dihadapan Rasulullah pada kulit binatang."

Pembukuan Al-Qur'an pada masa Nabi Muhammad SAW tidak terkumpul dalam satu mushaf; yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Mas'ud telah menghafalkan seluruh isi Al-Qur'an di masa Nabi Muhammad SAW. Dan Zaid bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Al-Qur'an di hadapan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW. wafat ketika Al-Qur'an telah dihafal dan ditulis dalam mushaf yang tersusun dalam bentuk : Ayat-ayat dan Surat-surat dipisah-pisahkan, atau dibukukan Ayat-ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf.
Pembukuan Al-Qur'an pada masa ini belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang lengkap. karena Nabi Muhammad SAW masih selalu menunggu turunnya Wahyu berikutnya .Ketika Wahyu turun, para Sahabat dan para Qurra ( pembaca Al-Qur’an ) segera menghafalnya dan para Sahabat segera menulisnya.

Kadang – kadang dalam Wahyu yang turun mengandung Ayat Nasikh dan Mansukh . Terdapat ayat yang menasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya ( Mansukh ) Bentuk penulisan Al-Qur'an itu tidak menurut tertib urutan turunnya /nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan ditempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW-

Pengumpulan Qur'an dimasa Nabi ini dinamakan:
a) penghafalan, dan
b) pembukuan yang pertama.

b. Pembukuan Al-Qur'an pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar diangkat menjadi khalifah setelah wafatnya Rasulullah. Ia dihadapkan kepada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang Arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu. Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Qur'an. Dalam peperangan ini tujuh puluh Qorri ( Sahabat yang hafal Al Qur’an ) gugur. Umar bin Khatab merasa sangat kuatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Qur'an karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qorri'.

Abu Bakar menolak usulan itu dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umar tersebut, kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Sabit, untuk membukukan Al Qur’an. Abu Bakar menceritakan kepadanya kekhawatiran dan usulan Umar. Pada mulanya Zaid menolak seperti halnya Abu Bakar sebelum itu. Keduanya lalu bertukar pendapat, sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan Al-Qur'an itu. Zaid bin Sabit melalui tugasnya yang berat ini dengan bersadar pada hafalan yang ada dalam hati para qurra dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lembaran (kumpulan) itu disimpan ditangan Abu Bakar. Setelah ia wafat pada tahun 13 H, lembaran-lembaran itu berpindah ke tangan Umar dan tetap berada ditangannya hingga ia wafat. Kemudian mushaf itu berpindah ketangan Hafsah putri Umar. Pada permulaan kekalifahan Usman, Usman memintanya dari tangan Hafsah.

c. Pembukuan Al Qur’an pada masa Usman.bin Affan
Penyebaran Islam bertambah dan para qurra pun tersebar di berbagai wilayah, dan penduduk disetiap wilayah itu mempelajari qira'at (bacaan) dari qari yang dikirim kepada mereka. Cara-cara pembacaan (qiraat) Qur'an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan 'huruf ' yang dengannya Al-Qur'an diturunkan. Apabila mereka berkumpul disuatu pertemuan atau disuatu medan peperangan, sebagian mereka merasa heran dengan adanya perbedaan qiraat ini. Terkadang sebagian mereka merasa puas, karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu semuanya disandarkan kepada Rasulullah. Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah sehingga terjadi pembicaraan bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. Dan pada gilirannya akan menimbulkan saling bertentangan bila terus tersiar. Bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Fitnah yang demikian ini harus segera diselesaikan.

Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Iraq, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman. Ia banyak melihat perbedaan dalam cara-cara membaca Qur'an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan; tetapi masing-masing memepertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segara menghadap Usman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya. Usman juga memberitahukan kepada Huzaifah bahwa sebagian perbedaan itu pun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan Qiraat pada anak-anak. Anak-anak itu akan tumbuh, sedang diantara mereka terdapat perbedaan dalam qiraat. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran yang pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat Islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan tetap pada satu huruf.

Usman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah (untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya) dan Hafsah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudian Usman memanggil Zaid bin Sabit , Abdullah bin Zubair, Said bin 'As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam. Ketiga orang terakhir ini adalah orang Quraisy, lalu memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula agar apa yang diperselisihkan Zaid dengan ketiga orang Quraisy itu ditulis dalam bahasa Quraisy, karena Qur'an turun dengan logat mereka.

Mereka melakukan perintah itu. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Usman mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada Hafsah. Kemudian Usman mengirimkan ke setiap wilayah mushaf baru tersebut pada setiap wilayah yaitu masing-masing satu mushaf. Dan ditahannya satu mushaf untuk di Madinah, yaitu mushafnya sendiri yang dikenal dengan nama "mushaf Imam".

Penamaan mushaf itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat dimana ia mengatakan: " Bersatulah wahai umat-umat Muhammad, dan tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Qur'an pedoman)." Kemudian ia memerintahkan untuk membakar mushaf yang selain itu. Umatpun menerima perintah dengan patuh, sedang qiraat dengan enam huruf lainnya ditingalkan. Keputusan ini tidak salah, sebab qiraat dengan tujuh huruf itu tidak wajib. Seandainya Rasulullah mewajibkan qiraat dengan tujuh huruf itu semua, tentu setiap huruf harus disampaikan secara mutawatir sehingga menjadi hujjah. Tetapi mereka tidak melakukannya. Ini menunjukkan bahwa qiraat dengan tujuh huruf itu termasuk dalam katergori keringanan. Dan bahwa yang wajib ialah menyampaikan sebagian dari ketujuh huruf tersebut secara mutawatir dan inilah yang terjadi.

Jumlah ayat Al – Qur’an

Sering kita dengar orang-orang menyebutkan bahwa jumlah ayat di dalam al-Qur'an adalah 6.666 (enam ribu, enam ratus, dan enam puluh enam). Jumlah semua ayat Al-Qur'an yang sebenarnya adalah:
Surat:
1-5 ( 7 + 286 + 200 + 176 + 120 ) = 789 ayat
6-10 ( 165 + 206 + 75 + 129 + 109 ) = 684
11-15 ( 123 + 111 + 43 + 52 + 99 ) = 428
16-20 ( 128 + 111 + 110 + 98 + 135 ) = 582
21-25 ( 112 + 78 + 118 + 64 + 77 ) = 449
26-30 ( 227 + 93 + 88 + 69 + 60 ) = 537
31-35 ( 34 + 30 + 73 + 54 + 45 ) = 236
36-40 ( 83 + 182 + 88 + 75 + 85 ) = 513
41-45 ( 54 + 53 + 89 + 59 + 37 ) = 292
46-50 ( 35 + 38 + 29 + 18 + 45 ) = 165
51-55 ( 60 + 49 + 62 + 55 + 78 ) = 304
56-60 ( 96 + 29 + 22 + 24 + 13 ) = 184
61-65 ( 14 + 11 + 11 + 18 + 12 ) = 66
66-70 ( 12 + 30 + 52 + 52 + 44 ) = 190
71-75 ( 28 + 28 + 20 + 56 + 40 ) = 172
76-80 ( 31 + 50 + 40 + 46 + 42 ) = 209
81-85 ( 29 + 19 + 36 + 25 + 22 ) = 131
86-90 ( 17 + 19 + 26 + 30 + 20 ) = 112
91-95 ( 15 + 21 + 11 + 8 + 8 ) = 63
96-100 ( 19 + 5 + 8 + 8 + 11 ) = 51
101-105 ( 11 + 8 + 3 + 9 + 5 ) = 36
106-110 ( 4 + 7 + 3 + 6 + 3 ) = 23
111-114 ( 5 + 4 + 5 + 6 ) = 20
-----------------------------------------------------------
Jumlah seluruhnya = 6,236 ayat
-----------------------------------------------------------
baca selengkapnya ( klik ) di sini...

Sabtu, 11 Desember 2010

AGENDA SEKOLAH

AGENDA AKHIR SEMESTER GASAL SMA ISLAM T. HUDA BUMIAYU
TAHUN PELAJARAN 2010/2011

NO. TANGGAL -------------KEGIATAN -------------------------- KETERANGAN
1. 1 – 10 Desember 2010 Ulangan akhir semester gasal
2. 13 – 14 Desember 2010 Class meeting
3. 16 Desember 2010 Pengajian Umum
4. 18 Desember 2010 - Pembagian Raport klas X dan XI - Pembagian lembar lepas bagi klas XII
Bagi KLAS XII diterima oleh orang tua/wali murid
5. 19 Desember 2010 – 2 Januari 2011 Libur akhir semester gasal

6. 3 Januari 2011 Masuk semester genap tahun pelajaran 2010/2011


Selama liburan sekolah tidak mengadakan kegiatan apapun kecuali ekstra kurikuler Karate
baca selengkapnya ( klik ) di sini...

DAFTAR NILAI SEJARAH KLAS XII IPS 2

NILAI ULANGAN SEMESTER GASAL
SMA ISLAM T. HUDA BUMIAYU
TAHUN PELAJARAN 2010/2011

No. Nama Siswa Nilai
1 AFNI AZHAR ZAKIYAH : 6,00
2 AMAS MUSABIK : 6,14
3 ANGGIH PRIHATIN : 6,71


4 ANTON SAURIZEN : 6,57
5 ARIE FITA HIKMAYANTI : 6,57
6 BAETA SUROYYA : 6,14
7 DIAN SUSILOWATI : 6,14
8 DWI ARIANI SAVITRI : 6,14
9 EKA MARDIANINGSIH : 6,14
10 ERLIN ROSYITA : 5,57
11 FAJAR TRI SUSANTO : 5,86
12 FIDNI FALAH : 6,57
13 HIKMAH SUSANTI : 5,71
14 IAN TRY ANTORO : 6,86
15 IIN LESTARI : 6,57
16 LAELA MAHQFIROTUL.B.: 6,28
17 LUSI ANA SARASWATI : 6,28
18 M. HENDRI TSULISTIAWAN : 5,71
19 M. SYUKRI ATAMIMI : 6,57
20 M. ZAM ZAMI MISBAHUDIN : 6,14
21 M.ALI FIRDAUS : 6,28
22 M.HAIKAL HABIBI : 6,00
23 MARISA APRIANI : 6,28
24 MOHAMAD UBAEDILLAH : 6,57
25 MUTIARA ANDRIANI : 6,57
26 NITA ARDYANI D.A : 6,14
27 NUR FADHILAH : 5,86
28 NURUL AFIFAH : 6,57
29 RESSA YUSNI ANI : 7,00
30 RILA RATNA NINGSIH : 7,00
31 RISTIYANI : 5,86
32 RIZQI EKO PRASTYO : 6,28
33 ROHMI AFIYANTI : 6,28
34 ROIKHATUL JANAH : 5,71
35 SINDI NAHDIYATUL FAJRY : 7,57
36 SUCI NURHIKMAH : 6,86
37 TANIA PUTRI KUSUMA A : 5,71
38 ULFATUL KHOZANAH ---
39 VISTA HANAFIYAH : 5,57
40 WILIAN SOLIKHUL AMIN : 6,86
41 WINA ROSPITA SARI : 7,86
42 ZULFI YUFI DANI : 7,71

baca selengkapnya ( klik ) di sini...

DAFTAR NILAI SEJARAH KLAS XII IPS 1

NILAI ULANGAN SEMESTER GASAL
SMA ISLAM T. HUDA BUMIAYU
TAHUN PELAJARAN 2010/2011


No. Nama Siswa Nilai
1 AENUSSOFA RIZALDY : 7,00
2 AHMAD HUTAMA A.N : 6,71
3 AKHMAD RINALDI : 6,57


4 ANGGUN FITRIYANA : 5,71
5 ARINA INDAH LESTARI : 6,00
6 ATI SALIS SABRINA : 5,86
7 AYDA FITRI NOOR : 5,57
8 CAHAYA PRIMA PUTRI : 6,00
9 DEVI SUSILOWATI : 5,57
10 DEWI MARLINA : 6,57
11 DITA RETNO KOKASIH : 6,57
12 EDI WIBOWO : 6,71
13 ELA SEPTIANI INDAH.S : 5,71
14 ERLAN NERLIS YUANA : 6,57
15 FANI DZUN NURAINI : 5,86
16 FATHUROHMAN : 5,86
17 FIFI PUJI RAHAYU : 5,86
18 FIRGIAWAN ABDILLAH : 6,57
19 GAERY PRASETYO : 6,14
20 IKA YULIANA : 5,57
21 LUTFI FITRIANI : 5,86
22 M. WILDAN KHABIBI : 6,00
23 M.IRFAN FARIS : 6,28
24 M.IRKHAS MUTTAQIN : 5,28
25 M.YOGI MAWARDI S. : 5.57
26 MUHAMMAD AFANI : 5,71
27 MUSTIYANINGSIH : 5,57
28 NEVI TRI KUMALA SARI : 5,28
29 NUR YANI : 5,57
30 NURUL ALFIANI : 5,57
31 NUZILAHTUN NI'MAH : 5,57
32 OLIVIA SAWASTIKA R. : 5,28
33 RANI MUTIA NINGSIH : 6,57
34 RIZAL AJI PALUPI : 6,28
35 RIZKI AMALIA : 5,86
36 SITI BAROKAH : 5,86
37 SLAMET RIYADI : 6,00
38 ULUL AZMI : 7,86
39 UMAR FIKRI SETIANTO : 5,57
40 WIWIT KHUSIYA WATI : 5,71
41 YUSRON ASROFI : 5,86
42 ZAMY RYAZ FAZNI : 5,71
43 ZIADATUL ILMIYAH : 5,57
44 TIKA NUR HIDAYAH : 5,71
45 MUH. AORORA PRAMUDIKA : 5,57

baca selengkapnya ( klik ) di sini...

DAFTAR NILAI SEJARAH KLAS XII BHS

NILAI ULANGAN SEMESTER GASAL
SMA ISLAM T. HUDA BUMIAYU
TAHUN PELAJARAN 2010/2011


No. Nama Siswa Nilai
1 ALYA ISTIKOMAH : 6,28
2 AYU KARTIKA DEWI : 6,14
3 AZMI FEBRIANDI : 5,86


4 BAYU ADI SAPUTRA : 6,14
5 DANARIC HESTI KAVARILA P.: 5,86
6 DESI RATNASARI : 6,14
7 DIAH NUR AISYIAH : 5,14
8 DIATRINARI ANDARAWARIH : 6,14
9 ENDAH FITRIANI : 5,86
10 FATHUL MUNAWAROH : 6,86
11 FEBRIANA RETA MUTI : 6,14
12 FIKA KAMALUDIN : 6,71
13 FISKA WINDYA RISTI : 7,00
14 FRISKA ADZIBATUL. L : 6,28
15 HAFIDZ ALIY HIDAYAT : 6,00
16 HIDAYATUL MUSYAROFAH : 5,86
17 INDAH BUDI ASTUTI : 5,28
18 IRMA SULISTIYANTO : 5,71
19 ISMI SUGIATUN : 5,00
20 ISTI JABAHTUL MAULINA : 5,00
21 KHAEROTUL MAEMUNAH : 5,14
22 KHANIFATUL HIKMAH : 5,57
23 KIRYANTO BAMBANG A : 6,57
24 LINA WISMA NANTI : 5,57
25 MAKHFIATUL LIYANI : 6,00
26 MUHSININ : 5,71
27 NOVI ISMATUL MAULA : 6,00
28 NUR APRIATUL HIKMAH : 5,28
29 SITI FRISKA YULIANTI : 6,14
30 SYIFA RESTIANINGTYAS : 7,00
31 TRI SUSANTI : 5,71
32 TRIANA AYU LESTARI : 6,00
33 VIKA ISMU HIDAYAH : 5,57
34 WIWIT WYDIA : 6,57

baca selengkapnya ( klik ) di sini...

DAFTAR NILAI SEJARAH KLAS XII IPA

NILAI ULANGAN SEMESTER GASAL
SMA ISLAM T. HUDA BUMIAYU
TAHUN PELAJARAN 2010/2011


No. Nama Siswa Nilai
1 AFIFAH FAUZIAH HADIAT : 7,57
2 AGUNG BAHTIAR : 8,00
3 AHMAD HIDAYAT FAUZI : 8,00


4 ARKHAM FAJAR YULIAN : 6,57
5 CHANDRA ALI AZHARI : 7,28
6 DIAN PERMATASARI : 6,86
7 DWIKI REZA SALAHUDIN : 6,71
8 DWINTA AJENG NURFAJRIN : 7,14
9 ELENDEA WINDI ARFILIA : 7,14
10 ERAS BAHDIANTO : 7,00
11 EVA MIZANAH MAHMUDAH : 7,71
12 EVIN FAJRIN : 7,86
13 FAHLIANI MASTUFAH : 8,57
14 FAIZAL AJI PRASETIYO : 7,86
15 FAJAR TAUFIK : 7,28
16 FAZLURRAHMAN AZHAR R : 7,14
17 IMAM MUNANDAR : 6,14
18 IRAWATI YASMIN 8.00
19 ITA INDAH ATIQOTUL ZULFAH : 7,28
20 IZZUNNAFSI : 7,14
21 KHAIRUNNISA : 7,42
22 LAELA NAHDATUN NISA : 7,86
23 LATIFUL ABSORIHIN : 7,86
24 LULU UNAJAH : 7,86
25 M.FARIDIL AFRASI HAQI : 7,71
26 MUH SOLEHUDIN : 7,71
27 MUH. ISKANDAR S Q : 6,47
28 MUHAMAD ULUL AZMI : 7,57
29 MUKHAMMAD SEFUDIN : 7,00
30 NADIYA VAIZ ASSEGAF : 6,14
31 NASIKHATUN MAR'ATUL L : 7,71
32 NILA AYU LESTARI : 7,71
33 PANJI ADHI NUGROHO : 6,57
34 PRASETYO PUTRA SAELI : 7,71
35 PUTRI RAMADHANI : 7,86
36 RENO YUDISTIRA : 8,00
37 RISKA KHASANAH : 8,14
38 ROSALINA FAUZIAH : 6,28
39 RUDI FITRIANTO : 7,86
40 SABILY EL HAKIEM : 8,00
41 SHOLLA KHUSOTUL F.: 7,86
42 SULKHAN TAUFIK : 6,57
43 TITIN LESTARI : 8,14
44 TITIS ALFI PANGESTI : 8,28
45 ULY NUR FITRIYANA : 7,14
46 UMI FAZA ROKHMAH : 7,86
47 VICKA ARYANTI : 7,14
48 VINI ALAWIYAH RAHMAN : 7,71
49 YASTOFIA NI'AMI : 7,71
50 YUNI CHAERUNNISA : 8,14

baca selengkapnya ( klik ) di sini...